LOL
Airmata itu kembali mengaliri pipinya, ia tidak bisa menghentikan beribu-ribu airmatanya.
“Aku juga Ra, aku juga minta maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, terimakasih untuk catatan yang kau buat. Aku dan Afriya akan menjadi teman berceritamu apapun yang terjadi. Hiduplah seperti apapun yang kau inginkan aku akan mendukungmu.” Liza menumpahkan airmatanya, segukan mereka masih terdengar. Mata mereka yang memerah menandakan mereka sudah menangis, mereka memasukkan buku harian itu kedalam lemari Liza agar tidak ada yang tahu.
Ponsel Liza berbunyi menandakan telepon, Liza melirik sebentar siapa orang yang menelepon “Tao” nama yang tertulis disana. Liza menggeser layar dan mengeraskan pa
Hot Chapters