Sentuhan Adik Sahabatku
Kebetulan, di tangan Priska—yang dulu pernah menjadi penjahit andalan di masa mudanya—kebaya pertunangan itu akan lahir, bukan dari mesin pabrik, tapi dari kasih seorang ibu.
“Ma,” panggil Jennar lirih, matanya berbinar. “Yang itu, brokatnya bagus banget.”
Ia mendekat, meraba kain itu dengan hati-hati, seolah takut merusak kilauannya. “Tuh, kan. Halus banget, Ma. Biasanya brokat kasar.”
Priska ikut menyentuhnya, ujung jarinya menekan, meremas sedikit, lalu dilepas. Alisnya terangkat tipis, pertanda kualitas yang tak perlu kata-kata.