Ada sesuatu tentang lagu penyambutan itu yang selalu bikin merinding: setiap kali barisan nada 'Marhaban ya Nurul Aini' mulai mengalun, aku langsung ngerasa suasana rumah berubah jadi hangat dan penuh harap.
Di kampung tempat aku besar, istilah 'marhaban' memang literal punya arti 'selamat datang', tapi lagu ini lebih dari sekadar ucapan. 'Marhaban Ya Nurul Aini' kelihatan jadi jembatan antara rasa religius dan rasa kebersamaan—liriknya mudah diingat, melodinya ramah buat anak-anak, dan sering dinyanyikan bareng-bareng di pengajian, takbiran, atau saat buka puasa bersama. Efeknya: orang yang biasanya pendiam ikut tersenyum, yang jauh merasa dekat, dan generasi muda belajar tradisi lewat nyanyian.
Kalau ditarik ke akar budaya, tradisi menyambut Ramadan lewat lagu seperti ini juga soal transmisi lisan. Sebelum ada radio dan streaming, lagu-lagu sederhana yang gampang diulang jadi medium efektif untuk menyebarkan semangat bulan suci. Selain itu, kata 'nurul aini'—cahaya mata—memberi sentuhan puitis yang menautkan rindu spiritual dengan keintiman keluarga. Buat aku, nyanyian itu bukan hanya musik: ia penanda waktu, memori, dan cara kita merawat komunitas. Aku masih suka dengerin versi-versi lama karena tiap nada selalu ngingetin momen-momen kecil tapi berarti selama Ramadan.