Selir Yang Terlupakan
Ia melepaskan tanganku dan berjalan perlahan menuju pintu, pikirannya kini sibuk menyusun detail kecil yang tak boleh terlewat: pakaian sederhana, pesan singkat untuk Kepala Kasim agar tak ada yang mencarinya, dan hal-hal lain yang tak boleh diketahui siapa pun.
"Selamat istirahat, Lianhua," ucapnya di ambang pintu. Cahaya lentera di lorong memanjangkan bayangannya hingga menutupi separuh lantai kayu. "Besok kita lihat apakah kau sehebat pemandu yang kau katakan."