Dua Kakak Tiriku Yang Posesif
Matanya tak pernah diam, terus berpindah dari spion kiri ke spion kanan, lalu ke kaca depan, menghitung jarak, membaca gerak kendaraan lain, memastikan tidak ada mobil asing yang mengikuti kami sejak keluar dari gerbang Saint-Noire.
Setiap gerakannya penuh disiplin. Terlatih. Mematikan.
Aku tahu, jika ada satu saja mobil yang mencoba membuntuti kami terlalu dekat, Ren akan menjadi orang pertama yang menyadarinya, dan mungkin yang terakhir bagi si pembuntut.
Ketegangan dari ruang makan tadi masih melekat di tubuhku seperti bau asap yang tak mau hilang.