Ada sesuatu yang tragis sekaligus indah tentang konsep 'setiap pertemuan pasti ada perpisahan' dalam cerita. Ini bukan sekadar klise, melainkan refleksi bagaimana kehidupan dan narasi saling terkait. Ambil contoh karakter seperti Luffy di 'One Piece' atau Fitz dalam 'Realm of the Elderlings'—setiap orang yang mereka temui, setiap pulau yang dikunjungi, meninggalkan bekas yang dalam sebelum akhirnya harus berjalan lagi. Justru karena perpisahan itu tak terhindarkan, momen-momen kebersamaan menjadi lebih berharga. Pengarang sering menggunakan dinamika ini untuk membangun emosi, membuat kita lebih terhubung dengan karakter yang harus melepaskan sesuatu atau seseorang yang mereka sayangi.
Di sisi lain, frasa ini juga bicara tentang siklus. Dalam 'The Lord of the Rings', Frodo harus berpisah dengan Shire dan teman-temannya karena perjalanannya telah mengubahnya selamanya. Tapi dari perpisahan itu lahir pertemuan baru—dengan diri sendiri, dengan takdir, atau dengan babak berikutnya dalam hidup. Anime seperti 'Your Lie in April' menggali ini dengan brutal: keindahan hubungan Kousei dan Kaori justru bersinar karena kita tahu waktunya terbatas. Di sini, perpisahan bukan kegagalan, melainkan bagian dari keutuhan cerita.
Yang menarik, konsep ini juga berlaku untuk dunia non-fiksi. Para streamer atau konten kreator yang kita ikuti suatu hari mungkin menghilang, serial TV favorit akan tamat, atau buku series kesayangan mencapai halaman terakhir. Tapi justru ephemeral nature inilah yang membuat kita terus kembali ke cerita—karena seperti kehidupan nyata, ketidakkekalan itulah yang memberi makna.