Sentuhan Adik Sahabatku
suaranya dalam, hampir seperti bisikan penuh perhatian.
Jennar menggeleng perlahan, bibirnya merekah membentuk senyum tipis. “Capek, tapi senang, Mas,” jawabnya jujur. “Rasanya masih seperti mimpi.”
Birru tersenyum, lalu mengangkat tangan Jennar dan mengecup punggungnya singkat. Sekali, lalu dua kali. Seperti kebiasaan baru yang tiba-tiba terasa paling alami di dunia.