Sepupu dari Kampung
Tapi, lelaki berjas hitam itu tak segera meninggalkan Riri.
"Apa lagi?" Netra Riri melebar.
Arman menatapnya lurus, tanpa senyum. Dahi Riri mengernyit heran.
"Jangan coba-coba kabur, percuma!"
"Siapa yang mau kabur, Bambang?!" Riri sewot. Dia juga sudah tahu, percuma kabur. Paling juga ditangkap lagi.
"Bagus, gadis pintar!" Arman tersenyum. Tapi, buat Riri senyum itu tidak ada manisnya sama sekali. Batin Riri malah terasa sedang diancam.