Binti Raharjo
Bibirnya yang berwarna ungu manyun, tampak sekali kemarahanya.
Mungkin yang dimaksut juragan itu, istrinya, pikir Maziyah kecut. Takut menyebabkan pertengkaran.
“Ini, bocah ini alasanku telat!”
“Sopo, iku?”
“Bocah, di guak ng selokan, bar di piloro! Mesakno!” [1]
“Pitoyo, sang malaikat!” suara orang-orang bersahutan. Di iringin derai tawa mereka yang ada di situ.
Bab Populer