Bayang Pedang Cahaya Bulan
Tiga gerobak berhenti di belakangnya, dan belasan orang berjubah putih berdiri diam beberapa langkah di belakang pemuda itu, seolah mereka sudah dilatih untuk tidak bergerak sebelum diizinkan.
"Namaku Bai Muchen," katanya, suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk didengar sampai ke menara jaga. Dia membungkuk, bukan membungkuk singkat sekadar formalitas, melainkan membungkuk penuh, punggung sejajar pinggang, tangan terkatup di depan dada seperti orang yang benar-benar menghormati siapa pun yang berdiri di baliknya. "Aku bawa beras. Bukan untuk sekte. Bukan untuk kekaisaran. Untuk siapa pun yang masih lapar."