Menikahi Luka
Sakit, tapi tak mampu tertolak.
“Bagaimana para saksi? Sah?
“Sah!”
Serentak kalimat sah mengisi seluruh ruangan. Iringan doa yang dipanjatkan penghulu, untuk kedua mempelai menambah khidmat kesakralan acara itu. Berbeda dengan Hanum, setelah kata sah terucap, bendungan air matanya roboh seketika. Tak ada lagi air mata yang mampu tertahan. Jika diizinkan, dia ingin sekali meninggalkan tempat yang dikerumuni banyak orang itu, kembali mengurung diri di kamar dan berkawan dengan sepi.
Hot Chapters