Hestia
tawa Patra menyambut kikikan geli Talia yang renyah karena sebutan yang laki-laki itu pakai menggambarkan jenis kelamin wanita dan pria, “udah bisa dilakuin tanpa ada ikatan nikah, yah susah, sih, karena kita tinggal di negara religius. Tapi, kalau orang tuanya which means dua orang yang pacaran dulu terus memutuskan nikah, belum bangun koneksi kuat—saling ngertiin dan nerima satu sama lain, gimana bisa kasih rumah yang kuat buat anak-anak mereka?”
Talia mengangguk-anggukkan kepala setuju. “Hesti habis lulus kuliah, mau nikah.”
“Secepet itu?” Patra lantas buru-buru melenyapkan respons terkejutnya. “Preferensi hidup orang beda-beda, sih!”
Senyum Talia megembang manis. “Lo mau pacaran pelan-pe
Sikat na Kabanata