Dimanja Tiga Majikan Cantik
Aku mendengarkan percakapan itu dengan wajah datar tanpa ekspresi, hatiku sudah beku mendengar hinaan-hinaan yang keluar dari mulut Nona Claudia.
Dulu, aku mungkin akan merasa sakit hati atau minder mendengar celotehan seperti itu, aku akan berusaha tersenyum ramah dan meminta maaf karena kampungku membuat mereka tidak nyaman.
Tapi hari ini, sikapku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku tidak lagi merasa perlu untuk menjilat atau merendahkan diriku di hadapan mereka.
Aku melangkah maju mendekati meja makan dengan membawa teko kaca berisi air mineral dingin yang sudah dicampur irisan lemon segar.