Bias Cinta
“Mingkem, Din.”
Dinda menutup mulutnya seketika. “Cari calonnya dulu kalau gini caranya, biar cepet dapat mobil.” Setelah melontarkan kalimatnya, Dinda lantas tertawa. “Entar deh, Mas. Saya buka lowongan dulu. Di cari, calon suami dengan kriteria kaya, kaya, kaya, dan kaya.”
Altaf terkekeh geli. Ia tidak akan menghakimi Dinda akan statemen gadis itu. Dinda hanya bersikap realistis dan apa adanya.