Raina
“Tapi, kita udah sama-sama dewasa. Dua puluh enam tahun, masa harus pacar-pacaran?”
“Why? Ada yang salah dengan itu?”
“Otak lo yang salah!” sungutku sebal.
Galih tertawa sejenak, sebelum merubah ekspresinya menjadi serius. Galih memegang kedua bahuku. Sinar matanya menyorot bola mataku dalam. “Okay, terserah lo. Asalkan lo dengerin gue baik-baik. Gue emang kampret, sekampret-kampretnya orang kampret. Tapi satu yang gue percaya, dalam mencintai itu gak boleh main-main kalau gak mau karma mampir di hidup kita. Dan perasaan gue sama lo, mulanya emang hanya sekedar ketertarikan. Gue bangga ngelihat lo begitu tegar melihat orang yang lo sayangi menikah dengan wanita lain. Lo bahkan ngucapin doa y
Hot Chapters