Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu
Ekspresinya tampak rumit saat dia berkata perlahan, "Yang sudah lewat jangan terus dipikirkan. Sesuai kesepakatan, aku sudah membelikan tiket pesawat ke Selandia Baru untukmu. Kalau kondisi tubuhmu memungkinkan, besok kamu sudah bisa berangkat."
Tanganku mengusap perutku. Hati terasa perih. Dengan suara nyaris tak terdengar, aku bertanya,
"Anaknya itu ... keadaannya sangat mengerikan, ya?"
Sejak tahu anak di dalam kandunganku adalah janin mati, aku sempat mencari-cari di internet seperti apa kondisinya. Setiap malam aku terbangun dari mimpi buruk. Namun setelah bertanya, aku justru takut mendengar jawabannya. Aku menghapus air mata dan memaksakan senyum. "Sudahlah, nggak perlu dijelaskan. Ak