Mengarang cerita pendek bertema luar angkasa itu seperti merancang miniatur alam semesta di dalam kepala. Aku selalu mulai dengan pertanyaan sederhana: 'Bagaimana jika?' Misalnya, bagaimana jika astronaut terjebak di stasiun luar angkasa dengan AI yang mulai menunjukkan emosi? Atau bagaimana jika kita menemukan artefak alien yang justru memutar waktu? Dari sini, aku membangun dunia mikro—gravitasi artifisial yang rusak, komunikasi terputus dengan bumi, atau konflik antar kru yang dipicu isolasi. Kunci utamanya adalah detail sensorik: deskripsi bunyi 'klik' helm yang kedap udara, sensasi mengambang tanpa arah, atau panorama bumi dari kejauhan yang memicu kerinduan mendalam.
Hal lain yang kubelajari adalah pentingnya batasan. Cerita pendek harus fokus pada satu momen transformatif. Aku pernah menulis tentang peneliti yang menemukan kehidupan mikroba di Europa, tapi alih-alih fokus pada penemuan, ceritanya justru tentang dilemanya menyembunyikan fakta ini demi melindungi ekosistem alien tersebut. Ending yang ambigu seringkali lebih kuat—biarkan pembaca merenungkan implikasinya sendiri sambil memandang langit malam.