Ada semacam getar khusus ketika membaca simbol 'bunga terlarang' di novel Indonesia. Bukan sekadar metafora romantis, melainkan representasi dari hasil yang dipetik dari pelanggaran norma. Di 'Lelaki Harimau' misalnya, bunga itu mekar di tanah beracun—hubungan terlarang yang indah tapi mematikan.
Justru karena 'terlarang'-nya, bunga ini jadi magnet. Pembaca diajak menikmati keindahannya sambil tahu konsekuensinya. Mirip seperti kita tergoda mencoba durian meski tahu baunya menyengat. Novel-novel lama seperti 'Salah Asuhan' juga pakai simbol serupa, tapi konteksnya lebih ke benturan budaya ketimbang cinta segitiga.