Petaka Puber Kedua
Aku yang berdiri di tepi tangga lantai dua rumah kami, hanya diam terpaku menyaksikan laki-laki itu nampak gelisah, mungkin dia merasa bersalah.
"Din, Fitra udah pulang, kan? Mas minta maaf karena tadi hujan deras, jadi Mas berhenti di jalan. Pas Mas sampai ke kampus, di sana sudah tak ada orang, gerbangnya pun dikunci," tutur Mas Thariq mencoba menjelaskan kejadian versinya.
"Ouh, berhentinya sama Sintya di Cafe, kan?" sindirku pada suamiku yang kini nampak bak mayat hidup, pucat.
Hot Chapters