Membicarakan literasi untuk remaja selalu mengingatkanku pada betapa dahsyatnya dunia imajinasi bisa memengaruhi kita di masa pencarian identitas. Salah satu rekomendasi kuatku adalah 'The Giver' karya Lois Lowry. Novel distopia ini menyuguhkan konsep masyarakat 'sempurna' tanpa rasa sakit atau konflik, tapi juga tanpa cinta atau warna. Jonas, si protagonis remaja, mulai mempertanyakan sistem ini setelah menerima memori dunia lama dari Sang Pemberi. Keindahan cerita ini terletak pada pertanyaan filosofisnya yang dalam: apakah kebahagiaan sejati berarti hidup tanpa penderitaan sama sekali? Buku ini membuka diskusi tentang pentingnya emosi manusia, kebebasan memilih, dan makna menjadi individu.
Di sisi lain, 'Percy Jackson & the Olympians' karya Rick Riordan juga selalu jadi favorit. Campuran mitologi Yunani dengan kehidupan modern membuatnya mudah dicerna namun tetap edukatif. Percy, seorang remaja dengan ADHD dan disleksia, ternyata adalah putra Poseidon. Serial ini mengeksplorasi tema penerimaan diri, persahabatan, dan tanggung jawab dengan gaya petualangan yang seru. Yang kusuka dari sini adalah bagaimana Riordan mematahkan stereotip - tokoh dengan ketidakmampuan belajar justru memiliki bakat luar biasa di dunia lain. Pesannya halus tapi kuat: perbedaan bukanlah kelemahan.