Pesugihan Kandang Bubrah
Pak Arwan, pria berusia sekitar enam puluhan dengan sorot mata tajam dan suara yang dalam, menyambut mereka dengan tenang.
“Saya sudah dengar. Kalian bawa bekas luka yang belum kering,” katanya pelan. “Silakan duduk.”
Dimas menjelaskan semuanya, sedetail mungkin. Tentang Jatinegara, tentang gambar-gambar, tentang suara-suara, dan terutama tentang sosok Aldi yang muncul terlalu sering.
Pak Arwan mengangguk pelan. Ia mengambil selembar daun lontar dari rak kayu dan mencoretkan sesuatu dengan ujung arang.