Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Terjebak Mantra!

Terjebak Mantra!

tanya Nai dengan sopan, bergaya sependapat dengan Kamprit. “Nanti malam. Saat ini kalian harus dipasangi chip terlebih dahulu, dan aku akan menjelaskan kepada manusia bumi itu bagaimana cara menulis yang baik dan benar, agar sesuai dengan permintaan pasar dan perpustakaan Kulstar, tidak asal menulis. Kabarnya, di bumi banyak sekali penulis yang asal-asalan, menulis cerita tidak berdasarkan logika.” Kamprit lalu keluar dari ruangannya, menugaskan Ketek menjaga ruangan selama ia menyelesaikan segalanya yang dibutuhkan.
1010.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 405 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR

Ia meletakkan kembali handphonenya lalu membuka sebuah buku bacaan. Ia mencari pembatas halaman buku untuk membaca sambungan dari halaman yang telah ia baca sebelumnya - sebuah buku kumpulan cerpen yang berjudul Narasi Rindu dari para penyair asal NTT yang tergabung dalam Komunitas Rumah Sastra Kita. Buku antologi itu mengangkat tema Pesan Perdamaian dari Bumi Flobamora untuk Nusantara Seri 2.
103.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 116 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
Bus Penyelamat

Bus Penyelamat

Setelah membayar semua barang-barang tersebut, Sindi segera bergegas pulang ke rumah kontrakannya. Setibanya di rumah, ia segera mencari kebenaran cerita tersebut di internet. Saat ia mengetik kata "Serampeh", dia pun benar-benar terkejut. Ternyata cerita yang disampaikan oleh karyawan toko tadi memang benar. Ia menemukan banyak sekali informasi tentang kejadian mengerikan yang terjadi di daerah sana. Penemuan mayat tanpa kepala, suara ketukan pintu yang misterius, orang hilang, penduduk desa Serampeh saling membunuh, perampokan di desa Serampeh, pemerkosaan anak usia 13 tahun di Serampeh, dan masih banyak lagi berita lainnya yang memenuhi layar ponselnya dari atas dan berderet-deret hingga
107.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 272 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH

TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH

Tantangan dari Dalam: Kebangkitan Kultus Naskah Lama Namun, masalah tidak hanya datang dari luar. Yuki Sato melaporkan adanya gerakan bawah tanah di pemukiman baru Sektor 9. Sebagian warga, yang masih merasa ketakutan dengan ketidakpastian masa depan tanpa naskah, mulai membentuk sebuah kultus bernama "The Seekers of the Pen" (Para Pencari Pena). Mereka percaya bahwa manusia butuh seorang "Tuhan Penulis" untuk memberi mereka tujuan hidup. Mereka mulai melakukan ritual untuk "memanggil kembali" Sang Editor.
880 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 19 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
Si Pengacara Gila

Si Pengacara Gila

Yudha menyipitkan mata sambil berpikir keras. "Kalau media luar memang dilarang masuk ke Desa Bukit Indah dan aksesnya ditutup rapat, kenapa Media Compas malah bisa bebas meliput semuanya? Lebih aneh lagi, media nasional lain ikut mengutip berita mereka mentah-mentah..." Tatapan Yudha perlahan berubah dingin. "Jangan-jangan... pihak Compas memang sudah disuap dan bekerja sama dengan orang-orang desa. Semua berita yang mereka sebarkan cuma sesuai narasi yang mereka mau. Tujuannya buat menggiring opini publik."
408 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 15 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
Bukan Untuk Dicintai

Bukan Untuk Dicintai

Arga melirik ke Serena. Serena tersenyum. Senyum yang sudah ia siapkan sejak beberapa menit lalu. "Acc ya, Bim. Saya sudah kirim draftnya." Bima membuka ponselnya. Email masuk. Sebuah draft artikel — judulnya belum ada, tapi isinya langsung membuat Bima membaca lebih lambat dari biasanya. Serena menulis soal kematian Hendratno Wicaksana. Bukan dari sudut pandang bisnis, bukan dari sudut keuangan — tapi dari sudut yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih berbahaya: kejanggalan.
573 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 17 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
Mama, I'm In Love With A Criminal

Mama, I'm In Love With A Criminal

Jack's POV Aku membolak-balik lembaran koran crocodile, dan beberapa koran merk lain, lokal maupun internasional pagi ini. Berita tentang pembantaian Srebenica terpampang sebagai tampilan awal pada rata-rata koran, disusul masalah robohnya perang dingin, perang di Afghanistan, konflik di Timur tengah, kelaparan di Ethiopia, rusuh di Somalia, kejayaan Eropa, inflasi di Asia Tenggara, politik di Rusia, persoalan hidup di pelosok Rusia, musim dingin di Moskow, macam-macam resep makanan untuk musim dingin, macam-macam pernak-pernik untuk musim dingin, macam-macam hiburan di musim dingin, cara mendekorasi pohon cemara, cara membuat kue tart cokelat, pemutaran ulang film ‘Lolita’, asal usul nama c
103.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
Ai (Untuk Leo)

Ai (Untuk Leo)

@PendekarSukses : Sangat menginspirasi. @GabutBermanfaat : Huwaaa, sad banget aku bacanya. Best banget ceritanya. @MasterCarier : Bagus banget ceritanya, sadnya dapet, alurnya oke dan tulisannya juga rapi (meski ada sedikit kesalahan juga tapi udah kategori ajiib kok) Dua jempol buat ceritanya, ku do'akan bisa masuk penerbit ;-)
103.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
Antara Peran dan Perasaan

Antara Peran dan Perasaan

“Karena di situlah aku mendengarkan suaraku paling jernih.” Mereka tertawa kecil. Dan malam itu, Nara menulis sebuah cerpen pendek berjudul: “Perempuan yang Menolak Jadi Redaktur, dan Menjadi Penjaga Sunyi” --- Hari itu langit Jakarta mendung, seolah ikut mengerti bahwa tempat yang akan Nara kunjungi bukan tempat biasa. Gedung itu sederhana—hanya dua lantai dengan cat pudar.
101.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 38 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
Suami Pilihan

Suami Pilihan

Wajahnya memerah, bibirnya sedikit gemetar saat menyelesaikan banyak pertanyaan dalam satu tarikan napas. “Ini…,” Benny Tan tidak tau harus tertawa atau menangis menghadapi situasi seperti ini. Gadis ini seperti komodo yang terluka dan mengamuk dengan gila. Apakah ada masalah dengan otaknya? Atau kucing piaraannya baru saja dikubur? Bahkan saya baru saja duduk langsung diberondol seperti di medan perang. Ini lebih mengerikan ketimbang berjalan di antara hujan peluru dan ayunan bermil-mil pedang tajam.
2.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 101 kali sebagai cerpen pilihan kompas
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status