Bias Cinta
“Ya, bukan nggak bisa, tapi, kan, terbatas. Nggak sebebas waktu sebelum hamil.”
“Apanya yang terbatas?” pancing Bias menahan tawa.
“Gayanya!” Cinta berdiri seketika, lalu mendorong tubuh Bias. “Buruan mandi, aku sudah laper.”
“Makan dulu aja,” ajak Bias meraih pergelangan tangan Cinta, sambil menaik turunkan kedua alisnya, “habis makan, kita buang kalori dulu, baru mandi.”