Majas totem pro parte dan sinekdoke sebenarnya punya nuansa yang berbeda, meski sama-sama bicara soal representasi bagian untuk keseluruhan atau sebaliknya. Totem pro parte itu kayak waktu kita sebut 'Indonesia menang medali emas' padahal yang menang cuma atletnya. Di sini, nama negara mewakili individu. Sinekdoke lebih luas—bisa bagian mewakili keseluruhan ('layar' untuk 'film') atau sebaliknya ('kostum merah' untuk 'tim sepakbola tertentu'). Bedanya, totem pro parte selalu pakai entitas besar (negara, institusi) untuk mewakili yang kecil, sementara sinekdoke lebih fleksibel arahnya.
Kalau dipraktikkan, totem pro parte sering muncul di berita olahraga atau politik, sementara sinekdoke lebih sering dipakai dalam sastra atau percakapan sehari-hari. Misal, 'Jakarta gempar' (padahal yang gempar warganya) itu totem pro parte, tapi 'dia punya roda dua' (untuk motor) itu sinekdoke. Keduanya bikin bahasa jadi lebih hidup, tapi dengan 'rasa' yang beda.