Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dendam Anak Angkat

Dendam Anak Angkat

Dion mengernyitkan dahi. “Tunggu! Perasaan semalam saya ngobrolnya sama lelaki. Bukankah sebelumnya desain bangunan ditangani oleh Bapak Danu?” sela Dion tiba-tiba. Gadis muda itu tersenyum. Wanita itu kembali tersenyum dan menekur beberapa detik. “Mbak masih dari CV. Agatha, ‘kan?” sambung Dion lagi.
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 113 kali sebagai dama batang park
Baca
+Pustaka
Duda Tampan Canduku

Duda Tampan Canduku

" Roman mengerutkan keningnya, melihat Siska tengah sibuk mencari sesuatu yang berada di dalam tasnya. "Ini Paman, oleh-oleh dariku!" "Sarung?" "Ya, itu sarung batik dari Pekalongan, aku pas melihat itu teringat Paman, jadi aku beli saja!" Roman menjadi salah tingkah saat Siska mengatakan mengingat dirinya. Dan di saat yang bersamaan Ardian menyipitkan kedua matanya melihat tingkah Roman. “Sepertinya pria ini sedang jatuh cinta!”
1014.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 517 kali sebagai dama batang park
Baca
+Pustaka
Kehidupan Edo yang Menakjubkan

Kehidupan Edo yang Menakjubkan

Dama berkata dengan sangat jujur, "Bukankah ekspresiku sudah cukup jelas? Kalau kamu nggak dapat melihat ekspresiku, aku akan memberitahumu bahwa Kota Jimba nggak menyambutmu." "Pak Dama, jangan terlalu keras kepala. Kali ini, aku datang ke Kota Jimba untuk berinvestasi di Kota Jimba." "Huh, sekalipun nggak ada yang mau berinvestasi di Kota Jimba, kami nggak membutuhkanmu untuk berinvestasi. Aku yang memesan ruang VIP ini, keluarlah!" usir Dama tanpa ragu-ragu.
9.41.2M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23.7K kali sebagai dama batang park
Baca
+Pustaka
Pendekar Kera Sakti

Pendekar Kera Sakti

Jongos Daki yang tahu persis hal itu segera berbisik kepada Kirana, "Buanglah pikiranmu yang bukan bukan. Baraka tidak akan melakukan apa yang kau cemaskan sekarang ini!" "Ah, Paman...!" Kirana menepiskan tangan dan bersikap biasa-biasa saja, seakan tidak mempunyai benih kecemburuan. Taman yang dimaksud adalah ladang bebatuan dengan aneka macam jenis batu hias. Ada yang berwarna ungu berbentuk seperti pohon kaktus, ada yang beerwarna putih mirip ikan melompat, ada pula yang berwarna hijau seperti bentuk pohon cemara, tingginya seukuran tinggi manusia dewasa. Yang namanya tanaman asli hanya rumput-rumput hias. Sisanya batu-batuan hias dengan bentuk dan warna yang mempesona.
1031.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 900 kali sebagai dama batang park
Baca
+Pustaka
Supirku Sayang

Supirku Sayang

Seorang perempuan muda tersenyum dan mempersilakan Sheila masuk. "Kau sudah datang?" Sheila menyalami Papa Banta dan duduk di sofa. Seorang pria muda beralis tebal dan berambut lebat duduk di hadapan Pak Banta. "Ini anak saya Sheila. Kenalkan ini Damar. Ia rekan bisnis Papa." Pak Banta memperkenalkan mereka berdua. Keduanya lantas bersalaman. Damar tersenyum manis pada Sheila. Sedangkan Gadis di depan Damar itu hanya membalas dengan tatapan sinis.
106.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 173 kali sebagai dama batang park
Baca
+Pustaka
Dendam Kuntilanak Merah

Dendam Kuntilanak Merah

~AA~ Angin sore berembus meriap-riapkan rambut Gadis yang panjang sebatas lengan. Dia sedang duduk di tepian sungai Batanghari bersama Nopi, untuk menikmati segelas es tebu yang banyak dijual di sepanjang jalan Ancol—tempat wisata Kota Jambi yang berada persis di tepi Sungai Batanghari. "Rasanya baru kemarin, ya, kita ngerasain teror dan ketegangan." Nopi buka suara. "Sekarang bedeng yang dibangun Teh Reni sudah mau jadi aja."
106.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 221 kali sebagai dama batang park
Baca
+Pustaka
Menikahi Pangeran Es

Menikahi Pangeran Es

Sasmita Praba mengeluarkan sebungkus permen dari balik saku kemeja, lalu membungkuk dan memberikannya pada Damar, “Damar, kau menyayangiku kan? Kau tak akan seperti ayahmu, kan?” Mata Damar kecil berbinar menatap permen jeruk kesukaannya dan tanpa berpikir ia menggeleng keras mengikuti permintaan ibunya. Sasmita tersenyum, lalu menggenggam tangan Damar berjalan bersama kembali ke dalam rumah. Mereka dalam perjalanan pulang dari taman bermain, matahari bersinar terang siang itu namun masih ada awan putih yang cukup melindungi mereka dari sengatan cuaca musim panas. Waktu yang tepat untuk bercengkrama bersama orang yang dikasihi. Maka, ketika tiba di pekarangan rumah dan melihat mobil ayahnya
109.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 189 kali sebagai dama batang park
Baca
+Pustaka
Suamiku Jadul

Suamiku Jadul

kata pria itu seraya menghidupkan motornya. “Mandor?” tanya Bang Parlin. “Iya, Bang, aku kerja sekarang,” kata Dame. “Kerja apa?” “Kerja ambil borongan mendodos atau membersihkan lahan, apa saja,” jawab Dame. “Kebunmu?” Dame terdiam, dia sepertinya tak bisa jawab. “Kenapa kau Dame? Ngomong langsung, masa kau susah cerita pun tidak mau, apa gunanya ada kami saudaramu?” kata Bang Parlin.
9.8583.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23.3K kali sebagai dama batang park
Tampilkan Ulasan (66)
Baca
+Pustaka
Kiki Sulandari
Semoga sajq kakaknya Nia bisa lebih mengendalikan kata katanya.... Waaah,bang Parlin sudah jngin berikan adik pada si butet Sari Sabar ya bang Parlin,tunggu sampai butet Sari berusia 1,5 tahun.........
Larose
suka sama ceritanya,ttg kehidupan sehari² yg bisa diambil pelajarannya dgn segala kelebihan dan kekurangan mereka,walaupun g yakin jg didunia nyata akan ada orang sepositif keluarga ParliNia,komennya jg bikin ngakak krn terbagi menjadi 2 kubu hahaha,good job Thor buat ceritanya ......🫰🏻
Baca Semua Ulasan
ES BATU

ES BATU

Untung pasca waktu ke taman tidak ada yang mengganggunya. "Nay, sumpeh ye! Lo tadi bringas amat sampe ngerobekkin mulut si Faro. Serem deh, tadinya kan gue yang mau ngamuk sama lo. Ngeri sendiri gue liat aura iblis yang bersarang di diri lo," celoteh Darrel.
107.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 250 kali sebagai dama batang park
Baca
+Pustaka
Nona Hemat di Sarang Konglomerat

Nona Hemat di Sarang Konglomerat

Ia berjalan masuk ke gang, tidak menyadari bahwa di balik bayangan pohon kamboja besar di ujung jalan, sebuah motor sport hitam sedang terparkir diam. Damar Langit duduk di atas motornya, helm full face masih terpasang. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Raka dan Citra dari kejauhan. Tangannya meremas setang motor, sarung tangan kulitnya berderit pelan. Rotasi Raka sudah berakhir. Dan Damar sudah menyiapkan medan tempurnya sendiri untuk besok pagi. "Target aman," bisik Damar pada radio panggilnya. "Siapkan unit untuk rotasi berikutnya."
1.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai dama batang park
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status