Gairah Terlarang Di Bus Wisata
Sebaliknya, posturnya tegap, memakai setelan jas kasual yang potongannya pas dengan wajah dewasa dan tampan yang memancarkan kesan dingin.
Begitu dia naik ke bus, suasana yang tadinya bising mendadak hening.
Aku buru-buru menyambutnya, memperlihatkan senyuman profesional, “Pak Chandra, selamat datang. Kursi David ada di sebelah sana.”
Dia mengangguk, tapi tatapannya tertuju pada wajahku selama dua detik.
Pandangan itu terlalu lantang, membawa kesan seolah sedang menilai, membuat jantungku berdegup hebat.