Duka Cita
“Papa David yang nelpon.”
“Pak David?” Sandra buru-buru mencuci tangan, lalu mengeringkannya dengan serbet. Ia mengambil ponsel dari tangan Cita, lalu menerima panggilan tersebut. “Pagi, Pak David.”
“Pagi, Bu Sandra,” sapa David terburu. “Saya lagi di bandara, otewe Surabaya.”
“Ada apa, ya, Pak?” Sandra berusaha tenang, kendati debaran jantungnya seketika berdetak lebih cepat.
Hot Chapters