Terjerat Gairah Pembantu Cantik
“Kalau boleh jujur, aku ngerasa kamu lagi banyak pikiran."
"Uhm?"
"Iya, Nilam. Kamu ada di sini, tapi pikiran kamu gak tahu ada di mana."
Nilam terdiam, jemarinya sibuk memainkan sedotan cappuccino di tangannya. Tatapannya penuh rasa bersalah saat melihat Dewa. "Enggak gitu kok, De. Aku cuma—"
"It's okay, Nilam. Gak usah panik gitu!" Dewa menyunggingkan senyum lebarnya. "Walaupun aku cuma cadangan, tapi aku tetap happy kok bisa ketemu dan ngobrol sama kamu."