Dewa
Busa menggelembung di sekitar tubuh ibu-ibu itu.
"Apa tidak gatal ya? Sementara banyak sampah yang berjalan mengikuti aliran sungai itu," Dewa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Untunglah, di kampungku masih ada sumber air jernih tak seburuk di sini, nampak mengerikan lagi jika hidup di perumahan kumuh Jakarta, oh Tuhan!" jerit Dewa dengan hati miris. "Ingin sekali aku membantu mereka, tapi apalah dayaku?" Dewa terus melontar kalimat bersaksi pohon mangga yang disandari tubuhnya itu.
"Semuanya sudah takdir," ada suara di belakangnya. Dia pun memutar lehernya untuk menoleh.
Hot Chapters