Diabaikan Berujung Penyesalan
Pria gelisah itu, yang berjalan mondar-mandir, tidak lain adalah ayah kandungku, Enzo.
Mereka berdua menatapku dengan kekhawatiran yang tulus. Sebuah kontras mencolok dibandingkan dengan orang tua yang menyebutku aib, yang memaksaku menandatangani surat cerai dan menggugurkan kandunganku.
Suara ayahku lembut, meskipun ekspresinya masih tegang. "Aku akan membuat mereka membayar semuanya, Isabel. Kamu adalah seorang Raharja. Nggak akan ada lagi yang bisa menyakitimu seperti ini."