Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!
"Sana mandi di bawah air terjun, kamu bau."
Mawar berpikir dalam hati, ‘Membujuk tidak boleh buru-buru. Harus selangkah demi selangkah, perlahan-lahan.'
Dhana ragu sejenak, menggelengkan kepalanya.
"Aku mau bantu pijat pundak Kak Mawar."
Mawar mengangkat alisnya, lalu menatap Dhana dengan tajam.
"Nggak usah pijat. Mandi saja sekarang. Kalau kamu mau mandi, baru bisa dapat permen. Kalau nggak mau nurut, nggak dapat apa-apa!"