Dari Budak Menjadi Bencana
Di tangannya yang kotor, dia memegang sebuah Seal Fragment—nyata atau palsu, aku tidak bisa memastikan.
"Sudah mendapat satu?" tanyaku, berusaha menjaga suaraku tetap tenang.
"Mungkin," jawabnya dengan senyum yang tidak menyenangkan. "Atau mungkin aku hanya menunggu mangsaku tiba." Dia melangkah lebih dekat, setiap gerakannya penuh dengan niat pembunuhan yang jelas. "Kau tahu apa yang Instruktur katakan padaku kemarin? Mereka bilang Bibit yang menyerap Bibit lain akan berkembang dengan eksponensial. Dan Bibit-mu, Pemakan Batu, adalah yang paling berkembang di antara kami semua."