Salah satu hal yang selalu kusediakan ketika menulis humor adalah ritme—cara satu kalimat menuntun pembaca ke jenaka berikutnya.
Aku mulai dengan karakter yang punya kebiasaan aneh atau reaksi berlebihan; itu memberi bahan konstan untuk lelucon yang terasa natural. Kalau karakternya konsisten, pembaca akan menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya, dan harapan itu bisa kita bolak-balik untuk efek komedi. Di paragraf lain aku fokus pada set-up dan punchline: set-up harus sederhana dan jelas, punchline harus singkat dan tak terduga.
Praktiknya: baca keras-keras, potong kata yang tidak perlu, dan gunakan jeda (enter atau tanda baca) untuk timing. Jangan takut mengulang gag yang sama sebagai running gag—asal dipakai dengan bijak, itu bisa jadi magnet humor. Akhir cerita harus menyisakan rasa hangat atau satu kejutan kecil, tidak harus menutup dengan lelucon terbesar. Itu kuncinya bagiku: keseimbangan antara kejutannya dan hati yang terasa tulus.