Pernah Sakit, Juga Melupakanmu
Dia menahan amarahnya dan menyuruh Luna meletakkan kotak abu itu dengan suara dingin.
Tapi baru dia bicara, Luna langsung kembali meraung.
"Tidak! Wanita jalang ini sebelum mati merebut juara tari dariku, setelah mati pun masih merebut gelar istrimu! Kenapa segala yang bagus harus direbut olehnya?"
"Dulu aku seharusnya bukan memfitnahnya, aku seharusnya langsung membunuhnya!"
"Tapi tak apa, masih belum terlambat. Hari ini aku hancurkan kota abu jenazahnya, biar dia mati pun tidak bisa tenang!"