Pembalasan Sang Dokter Jenius
Kini, kota itu juga terasa memiliki taring yang tersembunyi, penuh dengan bahaya yang mengintai dalam bentuk jas mahal dan pengawal berbadan tegap.
Joko memasukkan kartu nama itu ke dalam saku celananya dengan hati-hati. Benda kecil itu terasa berat, sarat dengan peringatan akan bahaya sekaligus janji akan sebuah harapan. Ia berdiri sejenak di trotoar yang ramai, membiarkan arus manusia melewatinya, pikirannya masih memproses percakapan yang baru saja terjadi.
Ia telah membuat musuh yang kuat, namun juga menemukan sekutu yang bijaksana. Jakarta, dalam satu sore, telah menunjukkan kedua wajahnya padanya, yang kejam dan yang penuh belas kasih.