Ada satu kisah yang selalu membuat aku menatap bulan dengan cara berbeda: Chang'e, si dewi bulan dalam mitologi Tiongkok.
Dalam versi yang paling populer, ia adalah istri pemanah legendaris Hou Yi. Setelah Hou Yi menembak sembilan matahari dan dianugerahi ramuan keabadian, kisahnya berubah jadi tragedi romantis—entah karena ia keburu menenggak ramuan sendiri untuk mencegah pencurian, atau karena ia dipaksa meminumnya—Chang'e melayang ke bulan dan menetap di sana. Di sisi bulan ia tidak sendiri; ada kelinci perak yang menemani, sering disebut Kelinci Giok (Jade Rabbit), yang mengaduk ramuan atau menumbuk obat di sana.
Versi-versi lain memberikan nuansa berbeda: kadang Chang'e digambarkan sebagai korban takdir, kadang tokoh yang memilih pengorbanan demi melindungi manusia. Perannya meluas jadi simbol rindu, kehilangan, dan kerinduan berkumpul—makanya kisahnya melekat erat pada Perayaan Pertengahan Musim Gugur. Buatku, setiap melihat bulan purnama dan kue bulan, ada rasa hangat sekaligus sedih yang mengingatkan aku pada cerita ini.