Pesugihan Kandang Bubrah
Api lilin yang semula menyala di tengah ruangan telah padam, meninggalkan aroma hangus dan serpihan hitam di atas lantai.
Sosok tinggi di ambang pintu tidak bergerak, tapi keberadaannya menyelimuti seisi rumah dengan tekanan yang membuat dada mereka sesak. Jatinegara bersembunyi di balik pelukan Lila, matanya menatap lurus ke sosok itu tanpa berkedip.
"Dia... masih di sini," gumamnya.
Dimas menggenggam benda tajam di tangan kanannya—pisau dapur yang sebelumnya ia bawa hanya sebagai bentuk pertahanan diri, kini tampak seperti sehelai ranting rapuh.