Hajatan Tetangga
Batinku.
"Maaf, Abdul, kau tahu bagaimana aku, aku tak bisa terima, aku ragukan kehalalannya, maaf sekali lagi, cukup tanah yang sudah kau hibahkan itu untukku, itupun karena kau sudah jamin kau beli itu dengan uang halal," jawab Syukur.
"Jaman sekarang masih ada orang seperti Syukur?" batinku lagi.
"Baik, Syukur, aku paham dan menghargainya, andaikan aku bisa sepertimu," kata Paman sambil menitikkan air mata.