Ujung Senja
Dengan wajah masam, dia meraih botol air itu dan menenggaknya hingga habis setengah.
“Kamu kenapa, sih?” Aku meraih tangannya. “Jangan kekanakan. Kita udah tua, Mi. Separuh kaki udah di pintu kubur. Kalau ibarat hidup, kita ini udah di ujung senja. Bentar lagi malam, setelah itu, selesai. Jatah hidup kita habis.” Aku berkata lembut. Seperti permen kapas yang biasa dimakan balita.
Dia merengut, tetapi menoleh juga ke arahku. “Kamu mengapa menolak lamaran aku?”
ตอนยอดนิยม