Tergoda Pesona Ibu Mertua
Ponselku bergetar, sebuah pesan anonim masuk, membuat bulu kudukku merinding.
[Jam 12 siang besok, di bangunan kosong dekat pertigaan Jalan Melati. Datang sendiri, atau orang-orang yang kamu sayang akan menderita. Jangan coba-coba main-main, Raka!]
Kata-katanya dingin, penuh tekanan, dan bangunan kosong itu—tempat terpencil yang dikenal angker—membuatku yakin ini bukan iseng. *Alex,* pikirku. Aku menyimpan ponsel, jantungku berdegup kencang, tapi tekadku tidak goyah.