BATARI
Tiba-tiba, aroma mawar yang tajam, pekat, dan dingin—seperti bunga yang dicabut paksa dari tanah kuburan—merayap masuk, menyesakkan paru-paru siapa pun yang menghirupnya.
Batari Amara Wijaya melangkah masuk.
Ia mengenakan sutra satin merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif, seolah kain itu adalah kulit keduanya yang basah. Belahan gaunnya yang setinggi pangkal paha memamerkan kaki jenjang yang putih pucat, berkilau di bawah lampu kristal.
الفصول الرائجة