Duka Cita
“Aku geli, Mas.”
“Geli?” Hari masih pagi, tetapi mereka berdua tidak berhenti tertawa sejak tadi. Di satu sisi, Arya sangat bahagia bisa melihat Cita tertawa lepas seperti sekarang. Namun, di sisi lain Arya harus merelakan kepergian istrinya dan bersiap menghadapi hari-hari monoton seperti biasanya. Mereka hanya bisa saling menelepon, video call, dan berkirim pesan. Sementara untuk bertemu, Arya baru bisa menyanggupi terbang ke Singapura satu bulan sekali. Lebih dari itu, ia harus realistis karena tengah merintis usaha yang omsetnya belum stabil. “Geli kenapa?”
Sikat na Kabanata