Pembalasan Istri Kumal
Tangisku pecah, menatap satu persatu senyum jahat mereka padaku.
"Apa salahku bu? Apa salahku sampai begini teganya kalian..."
Seulas senyum-senyum jahat dapat kulihat, ternyata menyiksaku adalah kebahagiaan bagi mereka.
"Kalian jahat!" Aku kembali berteriak, kali ini kutatap wajah-wajah tak berhati itu.
"Saat kamu sakit bahkan hampir mati di ranjang mas, aku yang merawatmu siang malam, bahkan menggantikan popokmu seperti bayi, tapi sekarang kamu tidak mengakui aku sebagai istri?"