Cinta di Puncak Dunia
Tatapan dinginnya seketika mencair menjadi kehangatan luar biasa saat matanya tertuju pada Reygan, Elara dan dua cicit mungilnya.
"Guten Morgen, Reygan," sapa Wilhelm dengan suara berat dan dalam, pandangannya mengunci pria di samping Elara. "Ich habe gehört, dass du die Geschäfte in Indonesien gut führst. Aber sag mir, warum schweigst du, wenn mein Enkelsohn verrückte Pläne schmiedet?" [Aku mendengar kau mengelola bisnis di Indonesia dengan sangat baik. Tapi katakan padaku, mengapa kau diam saja saat cucuku merencanakan hal gila?]