Menantu Bintang Lima
Terus terang jiwa menantuku meronta-ronta, ingin melesat cepat ke sana, menyingkirkan Mourin dari Mama.
"Mama nggak adil!" Mirah menjerit sekencang-kencangnya, lebih dari halilintar menyambar. "Menantu Mama kan, bukan hanya Mirah tapi Mourin juga?" suaranya mendesis-desis sekarang, seperti ular kehausan di sawah yang kering.
"Mama?" sengaja aku mendekati Mama, merangkul dari samping. "Ada apa ini, Mama?"
Tanpa berkata-kata, Mama memelukku, menangis tersedu-sedu. Sementara itu Mourin mengejek, menirukan pertanyaanku. Sampai di sini aku yakin, Mourin sakit.
Hot Chapters