Resep Rahasia Sang Pecundang
“Kau baru saja berhasil. Ujian terakhir dari tanah bukanlah untuk membuktikan kesucianmu, tetapi untuk memaksamu mengakui kenajisanmu. Rasa hormat sejati tidak lahir dari kesempurnaan, Bli. Ia lahir dari kejujuran. Kau tidak bisa menghormati bahan bakumu jika kau tidak jujur pada dirimu sendiri.”
Kejujuran. Kata itu menggema. Radit mengangkat kepalanya, menatap hamparan sawah yang hijau. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah basah dan rumput. Lalu, ia mengembuskannya perlahan, melepaskan semua dalih dan topeng yang selama ini ia kenakan.
“Ya,” akunya, suaranya serak karena emosi yang tertahan. “Ya, saya ingin balas dendam. Saya ingin dia merasakan apa yang saya rasakan. Saya in
Hot Chapters