Hai Om, Aku Calon Istrimu!
jawabku, berusaha terdengar santai padahal dengkul udah gemetaran.
Dia menatapku dengan ekspresi tak percaya. “Menikmati pemandangan? Jalur turun gini isinya akar pohon semua.”
Aku cengengesan. “Iya, tapi kan… akarnya artistik, Om. Kayak akar cinta yang mengakar kuat di hati kita.”
Om Kais menepuk keningnya. “Binar, kamu ini benar-benar—”
“Lucu, kan?” potongku cepat.