The Princess Troublemaker
“Kakak ngerti kamu marah, Sica. I know it, kamu kecewa tapi … kamu seharusnya sadar kita emang nggak bisa wujudin impian kamu. I can't, Kakak nggak mampu buat itu, Sweetheart. I'm sorry, really sorry.”
Sepasang mata bulat gadis berponi itu mulai memanas bukan kepalang seiring genangan air berkumpul sebelum jatuh tatkala kelopak mata menutup erat penuh emosi. Pedihnya tidak tertahankan lagi. Perihnya terus merongrong raga. Sakitnya berdenyar ke setiap jengkal kulit. Tangannya terkepal kuat sampai-sampai kuku-kuku jari menembus permukaan kulit. Sebenarnya dia sadar tidak, sih, seperti yang sang kakak katakan? Bahwa impiannya takkan pernah terwujud.
Hot Chapters