Teman Tidur Suamiku
Pertanyaan itu dilontarkan Elia dengan nada santai, tanpa menoleh, sambil dengan telaten menuangkan nasi putih dari rice cooker ke piring sang putra.
Ilham menghentikan gerakan mengunyahnya sejenak. Ia meneguk habis teh manisnya yang sudah mendingin, merasakan sensasi pahitnya sebelum menjawab.
“Jam satu, Bu. Aku ketiduran di kantor.” Kebohongan itu meluncur mulus, tanpa hambatan, seperti air yang dialirkan. Ia memang ketiduran, tetapi hati kecilnya tahu, tempat tidurnya semalam bukanlah di kantornya yang dingin, melainkan pelukan hangat seorang istri.