Pura-Pura Buta
jawabnya membuat rasa penasaranku semakin membuncah.
"Memang apa yang lucu, Om. Apakah kejadian naas yang saya alami itu lucu menurut Om?" Sungguh terlalu kalau hal itu dianggap lucu olehnya.
"Bukan, bukan itu. Masa itu lucu. Nggak lah. Itu … Ryan. Keponakan Om itu yang lucu." Masih dengan terkekeh. Jawaban yang diberikan oleh Pak Darwin tidak lantas membuat kerutan di dahiku berkurang. Malah membuatku semakin menatap lekat Pak Darwin yang duduk di kursi sebelah. Kami berada di dalam mobil Pak Darwin. Di belakang, di kursi penumpang. Pak Darwin membawa serta supirnya, karena matanya sudah tidak sanggup menyetir di dalam kegelapan.